Kliping

Upaya Menjual Pariwisata Lampung


Minggu, 11 Agustus 1996

Kompas/nal
GAJAH WAY KAMBAS -
Salah satu obyek
wisata Lampung adalah atraksi keterampilan
gajah di Pusat Latihan Gajah di Way Kambas.

INGIN melepas kejenuhan suasana kerja rutin di kantor, datanglah berlibur ke Lampung. Di sini Anda bisa rileks dan menghilangkan ketegangan sejenak. Berbagai potensi wisata alam, mulai dari pantai yang indah, gunung yang misterius sampai gajah main bola akan membuat segar pikiran. Suasana baru yang segar pasti akan menyertai Anda kembali ke rumah atau kantor..."

Kalimat promosi di atas memang tidak sekadar basa-basi. Ajakan itu mungkin sangat tepat untuk menggambarkan potensi riil pariwisata Lampung. Daerah yang berada di ujung selatan Sumatera ini memang sangat bertumpu pada wisata alam, mulai dari pantai, gunung, hingga gajah yang terampil beratraksi beragam mulai dari main bola, menari disko, bergoyang dangdut sampai pada gajah tunggang dan pekerja.

Menurut HA Suprijadi, Kepala Kanwil IV Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi Lampung - Bengkulu, "Kekhasan yang dijadikan unggulan wisata Lampung adalah obyek wisata alam dan minat khusus. Beberapa di antaranya seperti Gunung Anak Krakatau, Pusat Latihan Gajah (PLG) Way Kambas, Pantai Merak Belantung, dan Pantai Pasir Putih."

Untuk mencapai obyek wisata unggulan tidak sulit. Ke Way Kambas untuk melihat gajah jinak dan pintar main bola misalnya, tersedia jaringan transportasi memadai. Way Kambas yang terletak 135 km utara Bandarlampung, bisa dicapai dua jam perjalanan bus umum. Setiap saat kendaraan selalu ada, dan ongkos dari Bandarlampung ke sana hanya sekitar Rp 7.000.

Menuju kawasan Krakatau di Selat Sunda juga tidak sukar. Untuk melihat aktivitas gunung berapi itu, dari Bandarlampung harus berjalan ke kota Kalianda (85 km). Dari ibu kota Kabupaten Lampung Selatan ini perjalanan dilanjutkan ke Pantai Canti (25 km) yang terletak sebelah barat daya Kalianda. Cukup menyewa speed boat (kapasitas 20 orang) rata-rata Rp 200.000 sampai Rp 250.000, pelancong seharian bebas menyaksikan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Selain dua obyek wisata unggulan, inventarisasi terbaru Dinas Pariwisata Lampung mencatat sekitar 45 obyek wisata yang amat potensial dijual kepada para wisatawan yang tersebar pada lima Daerah Tingkat II di Lampung berupa pantai, gunung, air terjun, sungai untuk arung jeram dan lain-lain.

***

MENGAMATI sosok dunia kepariwisataan di Propinsi Lampung tak ubahnya ibarat memandang pelangi di angkasa. Aneka warnanya sangat indah dan mengasyikkan. Tapi, jika ditelusuri cermat keindahan itu muskil disentuh.

Benar, aset wisata yang begitu besar di Lampung ternyata belum dibenahi. Potensi wisata daerah ini berkembang alamiah. Padahal, jika ditangani serius dengan penyediaan prasarana dan sarana dasar, aset itu bakal mampu menjadi salah satu pendukung ekonomi dan pemacu pertumbuhan daerah.

"Selama ini kita hanya semata-mata bangga dengan potensi kepariwisataan. Padahal, kekayaan itu belum maksimal diolah. Contoh konkret kondisi ini bisa dilihat di wilayah Kabupaten Lampung Barat. Banyak objek wisata hanya tumbuh dan berkembang alami," ungkap Bupati Lampung Barat HS Umpusinga tentang pembangunan dunia pariwisata di daerahnya.

Di Lampung Barat potensi wisata yang berpeluang dikembangkan misalnya, wisata bahari karena di wilayah Krui sekitarnya ada pantai landai dengan ombak yang pantas untuk dijadikan olahraga layar dan ski air. Di kabupaten yang berbatasan langsung dengan wilayah Propinsi Bengkulu dan Sumatera Selatan itu juga terdapat aset lain, obyek wisata alam Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan Danau Ranau.

Kepala Dinas Pariwisata Lampung Idrus Djaendar Muda dalam buku inventarisasi data obyek dan industri pariwisata Lampung (1993), dari 45 objek wisata alam, budaya dan minat khusus yang telah terdata hanya 21 obyek yang sudah dikembangkan dan seringkali mewarnai promosi wisata daerah ini.

Di antara 21 obyek itu yang diunggulkan adalah wisata bahari ke Gunung Krakatau di Selat Sunda dan Pantai Merak Belantung (Lampung Selatan), Pantai Pasir Putih di Panjang (Kodya Bandarlampung), Situs Purbakala di Jabung dan Pusat Latihan Gajah (LPG) Way Kambas (Lampung Tengah), Dam Way Rarem di Bukit Kemuning (Lampung Utara) dan banyak lagi objek wisata menarik yang lokasinya tersebar di lima Dati II di Lampung.

Dari segi aset wisata, tak pelak lagi Propinsi Lampung memang sangat kaya. Selain yang sudah dikembangkan, sisanya sekitar 24 objek wisata lain yang masih alami juga tersebar di seantaro wilayah Lampung. Mungkin terlalu berlebihan jika aset itu diungkap detil satu persatu. Tapi, beberapa contoh konkret agaknya pantas diungkap. Misalnya, aset wisata bahari Pulau Sebesi dan Pulau Sebuku, dua pulau di Lampung Selatan yang bisa mendukung objek wisata ke Gunung Krakatau, Air Terjun Gangse (Lampung Utara) dan puluhan lainnya.

"Kondisi sektor pariwisata Lampung dewasa ini menghadapi berbagai keterbatasan. Tidak saja terbatasnya promosi, juga karena minimnya investor yang mengelola berbagai aset wisata daerah ini. Secara tegas bisa dikatakan sektor pariwisata Lampung saat sekarang memang masih perlu penanganan dari berbagai sisi," kata Suprijadi.

***

DALAM kerangka pengembangan sektor pariwisata nasional, Propinsi Lampung sebetulnya sudah dikukuhkan menjadi daerah tujuan wisata (DTW) ke-18. Dengan kondisi itu, kata Suprijadi, sebetulnya daerah ini sangat berpeluang memacu pertumbuhan sektor pariwisata. Apalagi secara geografis sebagai daerah penunjang Jakarta, Lampung memiliki akses langsung ke Ibu Kota, yang juga salah satu pintu masuk wisatawan mancanegara.

Kecuali itu, sarana dan prasarana pendukung sudah tergolong memadai. Dari segi akomodasi misalnya, Lampung memiliki empat hotel berbintang dengan kapasitas 375 kamar sementara hotel nonbintang mencapai 80 lebih dengan 1.000 lebih tempat tidur. Prasana pendukung seperti biro perjalanan juga tumbuh menjamur. "Dari segi itu sebetulnya Lampung tidak ada persoalan."

Kendala besar selain investasi penanam modal serta promosi, adalah terbatasnya dukungna jaringan transportasi ke berbagai obyek wisata. Contoh dasar betapa jaringan transportasi belum terlalu mendukung sektor pariwisata Lampung dapat dilihat dari kondisi Bandar Udara Branti Lampung, satu-satunya pintu gerbang udara untuk daerah ini. Bandara Branti sebetulnya bisa didarati pesawat jenis F-28 dan CN-235. Tapi, yang rutin mendarat baru sebatas pesawat kecil CN-235. "Terbatasnya tempat duduk pada pesawat itu, memang menyulitkan kehadiran wisatawan rombongan ke sini," ungkapnya.

Meski masih berhadapan dengan berbagai masalah yang sangat dilematis, ternyata pertumbuhan sektor pariwisata Lampung cukup lumayan. Ini tampak dari jumlah kunjungan wisatawan (baik Nusantara maupun mancanegara) dalam dua tahun terakhir. Pada tahun 1994, tercatat 349.809 wisatawan yang berkunjung ke Lampung.

Jumlah terbesar pada tahun itu memang wisatawan Nusantara mencapai 331.337 orang. Sementara wisatawan asing hanya 18.472 orang. Angka ini naik sekitar 10,84 persen karena pada 1993 hanya tercatat 319.729 orang wisatawan yang datang ke sini. (zul/nal)



Sumber:
KOmpas Online